Rabu, 01 Oktober 2008

Kelahiran Bayi dari Ibu Kurang Waras di Sidikalang

Seorang ibu yang mengalami gangguan kejiwaan di Sidikalang, Kabupaten Dairi Propinsi Sumatera Utara, melahirkan seorang bayi laki-laki di RSUD Sidikalang. Entah siapa ayahnya, kurang jelas diketahui. Yang pasti sang ibu penderita gangguan jiwa ini masih mampu mengenali tempat melahirkan yang tepat, yaitu di rumah sakit. Beberapa hari sebelum melahirkan, si ibu yang hamil tua ini terlihat berada di lingkungan RSUD Sidikalang dan seperti mengambil hati orang rumah sakit, dia merelakan diri membantu bersih-bersih di rumah sakit. Menyapu lantai rumah sakit dan membuang sampah-sampah yang ada di sekitar rumah sakit, barangkali diyakininya akan membuka hati petugas kesehatan di RSUD Sidikalang untuk membantunya bersalin. Dan, ternyata berhasil. Dia melahirkan seorang bayi mungil, laki-laki dengan kondisi yang sehat Senin (11/8).Entah, tidak masuk dalam memorinya lagi, usai melahirkan, si ibu ini meninggalkan saja bayinya di rumah sakit. Tidak mendapat pasokan makanan (ASI) dari ibunya, si bayi ini dipelihara pihak rumah sakit dengan memasukkannya dalam incubator. Si ibu yang kurang waras inipun kembali ke habitatnya, berjalan dengan pakaian kumal mengelilingi Kota Sidikalang. Mengulurkan tangan, buat memperolah sedekah.Sebagai orang yang kurang waras, warga Sidikalang mengakui bahwa dianya tergolong baik. Tidak pernah mengganggu orang. Cuma bicara kurang jelas, dan selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengharap mendapat uluran tangan orang-orang yang ditemuinya. Menurut dr. Saut Simanjuntak, SpOG salah seorang dokter kebidanan yang bertugas di RSUD Sidikalang via ponselnya mengatakan, bahwa ibu yang bersangkutan ini sudah dua kali melahirkan anak tanpa kejelasan ayah. Anak yang pertama, dia bawa dari rumah sakit untuk dirawat sendiri, ternyata beberapa waktu kemudian meninggal dunia, ditemukan terbungkus di tempat sampah.Entah karena faktor kasihan, iba dan ingin menolong sesama, seorang bidan di rumah sakit itu, mengajukan permohonan kepada Direktur RSUD Sidikalang, dr. Reinfil Capah, MKes, untuk mengadopsinya berhubung si bidan ini tidak memiliki anak laki-laki. Ketika dikonfirmasi kepada Renfil, dia mengakui bahwa seorang bidannya pernah mengajukan permohonan mengadopsi anak yang dilahirkan ibu yang kurang waras tersebut. "Bayi itu masih dirawat di ruang Melur," katanya. Barangkali, tanpa sepengetahuannya si Bidan tersebutitu sudah bertindak dan membawa sang bayi ke rumahnya. Sebab, kenyataan incubator di ruang Melur, sebagaimana diungkapkan Renfil, sudah kosong.Dr. Saut, menjelaskan bahwa orang yang mengadopsi anak adalah bidan br. Siagian yang juga bertugas di RSUD Sidikalang. Dan, secara formal pengurusan surat-surat terkait sedang dilaksanakan, dan direktur RSUD, mengetahui dan memberi ijin kepada yang bersangkutan untuk membawanya ke rumah untuk dirawat walau masih di bawah pengawasan rumah sakit. "Dia, melakukan itu atas dasar rasa kasihan dan keinginan menolong. Sebab, kalau dibiarkan di rumah sakit tentu si bayi itu kurang mendapat perawatan yang maksimal. Sementara ada orang yang mau merawatnya dan mengadopsinya," ujar Saut.Ketika ditanya soal adanya kemungkinan adopsi illegal, bahkan perdagangan anak, Saut menepisnya. "Bagaimana mungkin terjadi perdagangan anak oleh si Bidan ini, sebab dia melakukannya atas sepengetahuan manajemen rumah sakit," ungkapnya. "Soal, belum dimilikinya landasan formal pengadopsian anak, tentu itu bisa dilakukan seraya merawat anak itu. Sebab, anak ini membutuhkan penanganan yang manusiawi," tandasnya. Agar tidak terjadi kesimpangsiuran soal keberadaan bayi ini, sebaiknya pihak RSUD, terutama Direktur harus memperjelas ikhwal adopsi ini. Jika tidak, kemungkinan kecurigaan dugaan praktek perdagangan anak, atau adopsi yang tidak sesuai dengan prosedural hukum yang berlaku, sangat mungkin merebak. Sebab, bagaimana pun, bayi itu memiliki hak hidup yang jelas, walau dilahirkan oleh seorang perempuan yang kurang waras.

Tidak ada komentar: