Senin, 15 Juni 2009

Durian Sidikalang Masih Banjiri Kota Medan

Meski tidak sedang musim buah durian, namun di sejumlah tempat di Kota Medan masih banyak ditemui pedagang yang menjual buah yang memiliki bau khas itu.

Kepada antarasumut.com, Angga (25) salah seorang pedagang durian di Jalan Gajah Mada Medan mengaku kalau buah durian yang dijualnya di dapatkan dari Ibukota Kabupaten Dairi tersebut.

Namun buah durian asal Sidikalang yang dijual para pedagang tersebut sedikit mahal. Para pedagang menjualnya dengan harga berkisar antara Rp.20.000-Rp.40.000 tergantung ukuran buah durian tersebut.

“Kalau sekitar bulan April-Mei memang akhir musim durian, sehingga harganya cukup mahal, sekitar bulan Juni atau Juli buah durian murah, karena ini awal musim,” katanya lagi.

Ia mengaku setiap harinya mendapatkan omset jutaan rupiah dari berdagang buah durian. Pendapatannya bisa lebih meningkat pada hari Sabtu dan Minggu. (I01MOS/R02MOS)

Jalan Kabanjahe-Sidikalang Hancur Lebur

Medan, 2/12 (ANTARA) - Tim Reses DPRD Sumatera Utara menemukan Jalan Negara Kabanjahe, Kabupaten Karo hingga Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumut “hancur-lebur”, padahal setiap tahun miliaran rupiah anggaran pemeliharaan jalan dianggarkan melalui APBN maupun APBD Sumut.

Temuan itu diungkapkan anggota Tim X Reses DPRD Sumut, Edison Sianturi, di Medan, Selasa, usai melakukan reses ke daerah pemilihannya itu.

“Kita jadi bertanya-tanya kemana saja anggaran pemeliharaan jalan negara dan jalan provinsi yang setiap tahun ditampung dalam APBN dan APBD Sumut, sehingga Jalan Kabanjahe-Sidikalang selama bertahun-tahun dibiarkan rusak parah,” katanya.

Pada pertemuan dengan masyarakat Karo dan Dairi, ia mengaku banyak menerima keluhan tentang kerusakan jalan yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut.

Masyarakat, katanya, sangat mengharapkan Gubernur H. Syamsul Arifin segera memerintahkan Kadis Jalan dan Jembatan Sumut dan Balai Besar Jalan Nasional melakukan perbaikan.

“Selama ini kita lihat aparat Dinas Jalan dan Jembatan hanya melakukan pembabatan rumput saja, bukan menutup lobang-lobang yang rusak. Diduga anggaran perbaikan dan pemeliharaan jalan itu diselewengkan, karenanya kita minta aparat penegak hukum melakukan pengusutan,” tegasnya.
Edison juga mengaku merasa aneh karena setiap ruas jalan selalu mendapat biaya pemeliharaan setiap tahun anggaran. Namun berdasarkan pemantauan di lapangan hanya dilaksanakan pada akhir tahun saja, sehingga selama 10 bulan terakhir tidak pernah disentuh perbaikan.

Sehubungan dengan itu Wakil Ketua DPW Partai Patriot Sumut itu minta Kejati Sumut turun tangan melakukan investigasi terhadap penggunaan anggaran pemeliharaan jalan, karena terindikasi hanya dipakai satu triwulan saja. “Terbukti tidak pernah ada pemeliharaan berkesinambungan,” ujarnya.

Masyarakat Dairi, tambahnya, mengaku pesimis Jalan negara Kabanjahe-Dairi dapat segera diperbaiki. “Kecuali kalau ada kesempatan Presiden atau Wapres datang ke Dairi, barulah mungkin Balai Besar Jalan Nasional sibuk melakukan pembenahan,” katanya.

Kopi Sidikalang Diidolakan Menteri

SIDIKALANG ( Berita ): Ketua umum DPP Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) dan juga selaku Menteri Peranan Wanita RI Mutia Hatta dalam kunjungan kerja partai politik menyempatkan diri untuk menikmati “Kopi Bubuk Sidikalang” di kantor secretariat PKPI di Sidikalang. Mutia Hatta yang didampingi ketua DPC PKPI Kabupaten Dairi Junjungan Sianipar kepada sejumlah wartawan baru-baru ini mengatakan bahwa kunjungan rombongan partai PKPI ke Dairi adalah urusan partai politik.

Sebelum sampai di kantor secretariat, Mutia bersama rombongan terlebih dahulu mengunjungi Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo untuk melihat lebih dekat keberadaan taman tersebut. TWI di tingkat nasional sudah dikenal dan bahkan sampai ke Asia Tenggara . Selain itu, Dairi juga sudah dikenal dengan nama Kopi Sidikalang, tetapi baru kali ini menikmatinya secara langsung di daerah produksinya.

Minum kopi bubuk Sidikalang beda nikmatnya apabila kita menikmati diluar Kabupaten Dairi. Ini yang membuat masyarakat luas tergoda dan mengidolakan kopi Sidikalang. Kualitas dan aroma kopi bubuk Sidikalang sangat menggoda kepada siapapun ketika menikmati kopi tersebut. Sebab itu Mutia hatta berpesan kepada seluruh pengurus PKPI Kabupaten Dairi selain mengurus kepentingan politik. PKPI Dairi harus memberikan perhatian serius tentang tanaman kopi Sidikalang kepada eksekutif. Agar eksekutif memperhatikan kopi sidikalang.

Jaga dan pelihara kualitas kopi Sidikalang agar tidak punah dari pangsa pasar sehingga dampaknya akan merugikan masyarakat petani Dairi. Sementara dalam urusan partai Mutia mengatakan, PKPI di Dairi diyakini akan mendapat kursi dalam pilcaleg tahun depan.

Karena kemampuan pengurus PKPI Dairi dan cara kinerja caleg menunjukkan sikap propesional dan mengikuti mekanisme partai yang sudah digariskan. Ini terbukti bahwa PKPI di Dairi dapat merekrut caleg perempuan sesuai dengan kuota yaitu 30 % untuk caleg perempuan. Melihat kualitas dan kuantitas caleg yang diajukan DPC Dairi ke KPU sesuai dengan tuntutan partai diamana partai mengharuskan caleg perempuan yang berkualitas harus 30 %. Kita mengharapkan PKPI Dairi dapat menduduki kursi legislatif sebanyak-banyaknya pada pilcaleg yang akan datang, kata Mutia. (hab)

Pasar Induk Sidikalang Mulai Berwujud

Sidikalang, (Analisa)

Pembangunan Pasar Induk Sidikalang menggantikan konstruksi lama mulai menunjukkan kemajuan. Model yang selama ini masih meraba, perlahan mengundang simpatik masyarakat dan relevan dengan kemajuan zaman.

Rumah Dinas Kajari Sidikalang di Teror OTK

Rumah Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang Saut Simanjuntak, SH yang terletak di Jl. Pelita Sidikalang Kabupaten Dairi, mendapat teror berupa ancaman bakar oleh Orang Tidak Dikenal. Hal ini diketahui pertama sekali oleh Saut Simanjuntak, ketika hendak membuka gerbang rumahnya melihat ada 2 jiregen minyak, gulungan tali, kertas, korek api dan gulungan anti nyamuk. Salah satu jiregen dalam posisi miring tanpa penutup, sehingga minyak tanah yang ada di dalamnya bisa mengalir keluar.

Jelas terlihat, maksud si pelaku berupaya melakukan pembakaran yang dimulai dari garasi dimana terdapat 2 unit mobil diparkirkan. Jika kedua mobil di garasi bisa terbakar, akan sangat mudah merembet ke rumah dan dapat mengahanguskan rumah dinas yang dihuni oleh keluarga Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang ini. Entah hanya bermaksud menakuti (teror), atau kekurangcermatan perencanaan, kebakaran tidak terjadi.

Polisi yang langsung mendatangi TKP, melakukan pemeriksaan serta mengumpulkan barang bukti dan membawanya ke Kantor Polres Dairi, guna pengusutan lebih lanjut. Berbagai pertanyaan muncul. Polisi, mencoba menggali informasi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada penghuni rumah. Siapa pelakunya, tentu butuh penelusuran, investigasi dan penyelidikan lebih lanjut.

Satu hal yang dapat dipastikan, bahwa ada pihak yang merasa terganggu dengan sepak terjang Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang, yang aktif melakukan penegakan hukum di Kabupaten Dairi. Sehingga sampai perlu melakukan upaya teror sebagai upaya tekanan psikologis terhadap Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang. Jika, kasus seperti ini tidak bisa diungkap oleh pihak kepolisian dengan cepat, tentu sangat potensial menjadi preseden buruk yang dapat mengganggu konstelasi kehidupan sosial, politik dan penegakan hukum di Kabupaten Dairi.

Berita SMK HKBP

#

Mulai Agustus 2003 SMK HKBP telah membuka Cafe Siswa yang di beri nama Cafe Melati. Di Cafe ini siswa dilatih berwirausaha, kelak mereka menjadi pengusaha-pengusaha handal, dan tidak terfokus untuk mengejar PNS yang konon menurut berita burung gagak mendapatkan PNS musti disertai dengan amplop berwarna satu kardus.

#

Disini siswa dilatih Table Manner dan Pelayanan Prima, mereka diperkenalkan perlengkapan alat-alat makan berstandard Internasional, sesuai dengan situasinya.

#

Dulu mereka makan mie dengan cara Sigomak, kini mereka mampu menggunakan codok (hehehee...)

#

Dulu makan roti dengan cara sibola dan siharat, kini sudah dilatih menggunakan pisau cukur (kacian...)

September 2003.

#

SMK HKBP keluar sebagai Juara I Volly Putri tingkat SLTA Sekabupaten Dairi. Tim putri SMK HKBP dengan pemain handal Carlina Simamora Kelas III SK 3 dengan semangat dan Kemampuan strateginya mengajak temannya bermain cantik, sehingga mampu memukau dan mengundang simpatik para penonton.

#

Dengan semangat Kepala Sekolah terpaksa merogoh koceknya demi anak-anaknya tersayang...............

Desember 2003

#

Puji Tuhan.... Mulai Desember 2003 telah Online Internet di SMK HKBP, sehingga siswa telah dapat menggunakan Internet pada saat praktek dengan dana pulsa relatif rendah berkat Telkomnet Instan... Kalau dulu harus menggunakan jasa Indosat dengan pulsa Interlokal .. Wah mana tahan.

Tahun 2005

#

SMK HKBP Menjalin kerjasama dibidang Pendidikan dengan Grace College Australia, SMK HKBP telah mengirimkan siswanya kesana. Jumi Herna Silalahi contohnya siswa ini telah menerima pendidikan Gratis disana mulai bulan April 2006 yang diperkirakan berakhir pada Bulan Desember 2006, ini adalah salah satu wujud nyata dari Visi dan Misi SMK HKBP sidikalang.

Pesta Peresmian dan Jubileum 76 tahun HKI Resort Khusus Sidikalang

Dengan mengucapkan Puji dan Syukur Kepada Allah Bapa dan atas kasih karunia Tuhan Yesus Kristus sang Kepala gereja, yang senantiasa membimbing dan meneguhkan gerejanya, Panitia Pesta Peresmian dan Jubileum 76 tahun HKI Resort Khusus Sidikalang Daerah IV DAKOTA (Dairi, Karo dan Tanag Alas) telah berhasil mengadakan Pesta dengan Sukses dan meriah. Terlaksananya pesta tersebut tidak telepas dari antusias dan kerjasama anggota Jemaat, mulai dari awal pembentukan Panitia Pesta hingga terlaksananya Pesta pada tanggal 10 Agustus 2008.

Acara kebaktian Minggu dipimpin langsung oleh Pucuk Pimpinan HKI, Pdt. Dr. B. Purba (Ephorus HKI) sebagai Pengkhotbah dan Pdt. MAE. Samosir, MTh (Praeses Daerah IV DAKOTA) sebagai Liturgis, Pdt. H. Harianja, SH, M.Min sebagai pembawa doa syafaat. Turut hadir dalam kebaktian Pdt. Edwin. JP. Simanullang, STh (Staff Pucuk Pimpinan HKI) yang juga membacakan SK Peresmian Resort Khusus HKI Sidikalang sesuai dengan SK Pucuk Pimpinan HKI No. 432/PP.HKI.DU/VIII/2008 tanggal 05 Agustus 2008 sebelum diresmikan oleh Bapak Ephorus HKI. dan Pdt. Drs. J. Pasaribu, STh (Pendeta Resort Sumbul Pegagan). Lewat Khotbah dari nats Habakuk 2: 6 - 14, Ephorus menekankan betapa pentingnya kita sebagai pembawa Syalom (Damai Sejahtera) kepada diri kita sendiri dan sesama kita manusia, untuk tidak berbuat yang jahat di mata Tuhan dan kepada sesama kita manusia. Janganlah ada orang Kristen yang menjadi penindas bagi saudaranya, dengan mengambil keuntungan yang bukan dari jalan yang benar (dengan menipu, korupsi atau mementingkan diri sendiri).

Pesta Peresmian kali ini agak unik karena dirangkai sekaligus dengan Perayaan Ulang Tahun (Jubileum) 76 tahun HKI Sidikalang Kota. Acara kebaktian minggu dihadiri sekitar 600 orang dari terdiri dari Jemaat HKI Sidikalang Kota, PW HKI Amborgang, PW HKI Sigalingging, dan utusan dari gereja-gereja se DAKOTA dan Undangan lainnya. Setelah acara Ibadah selesai, didahului acara sambutan dari Ketua I Panitia Pesta bapak S. Simanullang( mantan KACAB BRI Sidikalang) , dan mewakili undangan didaulat bapak TOM Sianturi beserta ibu Remita br Sembiring. (calon Bupati dan wakil Bupati Dairi ), dan kata sambutan penutup oleh bapak Ephorus HKI dan sekaligus membuka acara Pesta. Setelah itu dibacakan sejarah gereja HKI Sidikalang oleh bapak St. H. Lumbanbatu.

Acara lelang diselangselingi juga dengan pembagian hadiah atau lucky draw buat semua undangan yang hadir. Dalam Pesta Ulang Tahun 76 HKI Sidikalang (Jubileum) tersebut, bapak Ephorus dan ibu memotong kue Ulang tahun dan memberikan kepada para Pendeta dan Jemaat HKI Sidikalang kota, yang menerima dengan sukacita. Dan setelah itu juga dilakukan pemberian Piagam penghargaan kepada para Pendeta, Guru Jemaat dan para Sintua yang pernah melayani di HKI Sidikalang kota yang langsung diberikan oleh bapak Ephorus HKI. Sukacita semakin bertambah ketika bapak Ephorus dan ibuf beserta para pendeta dan istrinya (yaitu Pdt. MAE Samosir, MTh, Pdt. L. J. Hasibuan, STh dan istri Cal. Pdt. C. br Nababan, STh, Pdt. Drs. J. Pasaribu, STh, Pdt. Edwin JP. Simanullang, STh. Pdt. S. W. Panjaitan, STh dan istri, dan Pdt. Henry Sihotang, STh) didaulat untuk manortor, begitu juga selanjutnya para undangan dari gereja tetangga ikut manortor dan sekalaigus menyumbang serfs melelang. Walaupun para undangan sudah banyak yang pulang, acara tetap meriah, karena diadakan acara Lucky draw pembagian 6 Alkitab dan Kidung Jemaat yang berlogokan HKI buat semua jemaat yang hadir. Dan terakhir Lembaga Koor seperti PNB, PW, dan PA dan jemaat manortor dengan penuh sukacita. Pesta ditutup sore hari dengan doa oleh bapak Praeses HKI Daerah IV DAKOTA Pdt. M.AE Samosir, MTh. (Berita Kiriman Pdt. Lamhot Hasibuan, STh-Pendeta HKI Resort Khusus Sidikalang).

Kejari Sidikalang Periksa Mantan Dirut PDAM Tirtanciho

KabarIndonesia - Sepak terjang Kejaksaan Negeri (Kajari) Sidikalang semakin memperlihatkan kesungguhannya dalam menegakkan hukum. Kasus korupsi di 2 kabupaten yang menjadi wilayah hukumnya, terkuak lewat pemeriksaan dan bedah kasus baru-baru ini di Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Utara.

Setelah berhasil menetapkan tersangka korupsi bernilai 7 Miliar di kabupaten Pak-Pak Barat yang menyeret mantan Bupati Tigor Solin, mantan Sekda dan beberapa orang PPK dan kepala Dinasnya, kali ini giliran kabupaten Dairi melalui pemeriksaan terhadap mantan Dirut PDAM Tirtanciho Lit Muli Ginting yang juga mengajukan diri sebagai calon wakil bupati, berpasangan dengan Sigalingging pada pilkada kabupaten Dairi pada 2008 ini.

Lit Muli Ginting, diperiksa terkait temuan dugaan penyalahgunaan dana penyertaan modal dari pemkab Dairi kepada PDAM Tirtanciho Tahun Anggaran 2006 sebesar Rp 1,3 miliar.

Selain mantan dirutnya, Kajari Sidikalang juga memeriksa Direktur Teknik P. Sinaga.

Dari pemeriksaan awal diketahui dari dana 1.3 miliar, Rp. 925 juta, diperuntukkan untuk pembangunan fasilitas penampungan dan penyaringan air yang berlokasi di Pandji Butar Sidikalang. Dana itu hanya dipergunakan atau diserahkan kepada pihak pemborong sebesar Rp. 600 juta saja, dengan selisih sebesar Rp. 325 juta.

"Inilah yang menjadi alasan utama pihak Kajari Sidikalang melalukan pengusutan terhadap Lit Muli Ginting, dkk", ujar Kajari Sidikalang Saut Simanjuntak.
Ketika ditanya, apakah ada kaitanya dengan pelaksanaan Pilkada, Saut mengatakan, kasus ini murni pidana dan tidak ada kaitan dengan pilkada.

"Ah, sudahlah, nggak ada urusan dengan Pilkada, segala bentuk tindakan merugikan uang negara memang harus diusut, ada pilkada atau tidak, kami tetap usut siapa biang pelakunya," ujar Saut.


Bom di Sidikalang

Hakim pn sidikalang, silaban dipindah ke bekasi (ja-bar). diberitakan telah menerima suap dari kedua pihak yang sedang berperkara (antara aron & paulus sinaga yang memperebutkan tanah). (hk)

PINDAH ke Bekasi (Jawa Barat), dengan resepsi perpisahan disertai tangis, E.L. Silaban ternyata meninggalkan bom waktu di kota Sidikalang — lk. 160 km dari Medan. Seminggu setelah keberangkatan hakim yang hampir pensiun tersebut, 16 Janari lalu pecah berita tentang Pengadilan Negeri Sidikalang Silaban, 57 tahun seperti disiarkan Harian Sinar Indonesia Baru (Medan), menerima suap dari kedua pihak yang sedang berperkara.

“Betul-betul merupakan kejutan besar,” kata Ketua pengadilan Tinggi Medan, Djariaman Damanik. Sebab, begitu SIB menulis, Silaban telah menerima suap Rp 250 ribu dari seorang penggugat. Tapi ia ternyata memenangkan si tergugat — yang berani membayarnya Rp 1 juta. Dikabarkan, semuanya itu diakui yang bersangkutan di hadapan Ketua Pengadilan Negeri Sidikalang, Andar Purba — sambil menangis pula.

Perkaranya sebenarnya hanya menyangkut uang sekitar Rp 50 ribu. Yaitu seharga tanah di Desa Parbuluan di kecamatan itu, yang dipersengketakan antara Aron dan Paulus Sinaga. “Tapi,” kata Aron, “hal itu penting karen menyangkut harga diri nenek-nenek kami.”

Tanah itu bagian dari perkampungan Parbuluan, yang konon dibuka Djongga Sinaga, pendatang dari Pulau Samosir (1909). Menurut adat, Djongga berhak memakai gelar Raja Ni Huta, dan secara adat pula menguasai kampung marga Sinaga yang disebut Huta Sinaga.

Tapi belakangan muncul raja lain: Dogang Sinaga, yang masih terhitung saudara sepupu Djongga. Dan tentu saja kedudukannya juga diwariskan kepada anak-cucunya.

Cucu kedua raja itulah yang kini bersengketa. Aron, 40 tahun, guru SD, bertindak sebagai penggugat mewakili Djongga Sinaga. Ia menuntut hak tanah yang kini dikuasai lawannya. Alasannya, tanah yang diduduki Dogang Sinaga secara turun-temurun pinjaman belaka — berdasar belas kasih Djongga Sinaga.

Paulus Sinaga. 40 tahun, mewakili keturunan Dogang Sinaga sebagai si tergugat berpendapat keturunan Dogang berhak menjadi raja di kampungnya — yang terpisah dari kampung yang dikuasai keturunan Djongga Sinaga.

Perselisihan tak bisa diselesaikan dengan pesta adat saja. Dan setiap hari sidang, kedua pihak mengerahkan orang kampung masing-masing sebagai suporter.

Menurut Aron Sinaga, untuk perkara itu pengadilan juga meminta biaya khusus. Hakim Silaban, katanya, punya pikiran begini kalau mau menang bayar saja Rp 250 ribu. Penggugat menyanggupi tarif tersebut, asal boleh ditunaikan setelah panen.

Panen telah lalu. Hasilnya pun telah diserahkan. Aron telah pula mengerahkan orang sekampung untuk menyaksikan ketukan palu yang melegakan itu. Tapi, ternyata, putusan ditunda. Yang muncul pegawai pengadilan, Payan Bako, yang menyampaikan pesan Silaban minta tambahan Rp 100 ribu. Terpaksa dipenuhi.

Toh hari sidang yang baru, ditentukan setelah Aron Sinaga membayar Rp 30 ribu. Itu pun masih mundur lagi. Baru setelah minta tambahan Rp 50 ribu, Oktober lalu Hakim Silaban membuka kerapatan itu. Putusannya? Aron Sinaga kalah !

Orang-orang yang berada di pihaknya tentu saja kalap. Payan Bako dan pegawai pengadilan lainnya, Gujuk Sinaga, mereka amuk habis-habisan: “Uang kami sudah habis . . . mengapa kalah juga? !”

Besoknya, menurut Payan Bako kepada TEMPO, Ketua Pengadilan memarahi Silaban. “Begitu permainan kamu di sini — makan dari sini-sana!” kata sang ketua, Andar Purba, seperti dikutipkan Payan Bako untuk TEMPO. Andar Purba, katanya lagi, juga menyuruh Silaban mengembalikan uang yang pernah diterimanya.

“Setahu saya,” kata Payan Bako, “semuanya telah dikembalikan.” Melalui dia sendiri Silaban ada mengembalikan Rp 180 ribu. Sedang yang Rp 250 ribu dikembalikan melalui Gujuk Sinaga.

Tapi Silaban membantah. Ia sudah melapor ke PN Bekasi — tempat tugasnya yang baru, meski belum mulai aktif. “Saya heran, mengapa berita itu baru muncul setelah saya di Jakarta,” kata Silaban. “Semuanya itu fitnah — jelas, bah, nama saya tercemar.”

Di Jakarta ia tinggal menumpagg di rumah bambu milik anaknya. Ia pun mengaku “hidup saya sederhana, tak punya mobil, juga tak punya Honda,” lanjutnya. “Bahkan saya sering makan cuma pakai ikan asin.” Ia hanya minta agar Ketua PN Sidikalang menjernihkan namanya. Untuk menjernihkan nama baik pengadilan pula, katanya, ia menyarankan agar ketua juga melakukan penuntutan — kepada siapa saja yang menuduhnya memeras kanan-kiri.

Ketua PN Sidikalang masih mencoba mencari keterangan — baik dari pegawainya maupun dari Aron dan Paulus Sinaga. Hasilnya belum diumumkan. Aron bisa jadi tetap pada keterangan seperti yang dikisahkan kepada TEMPO. Tapi, Paulus Sinaga jelas pernah membuat pernyataan tertulis kepada Ketua PN, yang menyatakan tak pernah memberi uang Rp 1 juta kepada Silaban.

Pendek atau panjang cerita ini nanti, belum bisa diduga. Apalagi sampai minggu lalu Menteri Kehakiman Mudjono ternyata belum tahu.

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 50/X/07 - 13 Februari 1981